Dalam upaya mencetak tenaga gizi profesional yang siap terjun ke masyarakat, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertajuk “Kolaborasi Interprofesional dalam Program Promosi Gizi dan Kesehatan”.
Berlangsung di Gedung Auditorium Poltekkes Kemenkes Gorontalo, acara ini diikuti dengan penuh antusias oleh para mahasiswa Jurusan Gizi. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli di bidang kesehatan masyarakat, yakni Bapak Syafiin S. Napu, SKM., M.Kes., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Dalam pemaparannya, Bapak Syafiin Napu menekankan bahwa permasalahan gizi dan kesehatan di masyarakat saat ini sangat kompleks dan tidak bisa diselesaikan secara parsial atau oleh satu profesi saja.

“Masalah gizi memerlukan penanganan multidisiplin. Pendekatan ini menggabungkan keahlian dari berbagai sektor—mulai dari medis, nutrisi, hingga sosial-ekonomi—untuk menyelesaikan akar masalah dan memastikan pemulihan yang komprehensif bagi masyarakat,” tegasnya.
Beliau mengenalkan konsep dasar dari Interprofessional Collaboration (IPC) atau kolaborasi interprofesional, yaitu kemitraan dinamis antara tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang profesi yang bekerja bersama pasien dan keluarga. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan individu sebagai prioritas utama dan memastikan perawatan disesuaikan dengan kondisi fisik, mental, serta preferensi pasien.
“Promosi kesehatan akan jauh lebih efektif bila dilakukan bersama. Dengan menyatukan keahlian, kita dapat meminimalkan kesalahan dan mempercepat pemecahan masalah yang kompleks,” tambah Syafiin.
Di hadapan para calon Ahli Gizi, pemateri membedah peran spesifik dan strategis yang dimiliki oleh tenaga gizi. Ahli gizi memiliki tanggung jawab mulai dari edukasi gizi seimbang, konseling gizi, pemantauan status gizi (menyeimbangkan asupan dan kebutuhan tubuh), hingga penyusunan intervensi gizi yang terencana melalui Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT).
Dalam implementasinya di lapangan, Ahli Gizi tidak bekerja sendirian, melainkan berkolaborasi erat dengan:
- Dokter: Fokus pada diagnosis dan pengobatan.
- Bidan: Fokus pada kesehatan ibu dan anak.
- Perawat: Fokus pada pendampingan dan monitoring
- Sanitarian: Memastikan kesehatan dan kebersihan lingkungan.
- Serta kolaborasi bersama Promotor Kesehatan, Kader, dan lintas sektor lainnya.
Kerja sama ini sering kali diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan nyata, seperti kelas ibu hamil dan balita, posyandu terpadu, penyuluhan bersama, kunjungan rumah, hingga kampanye kesehatan masyarakat.

Meskipun membawa banyak manfaat seperti peningkatan cakupan program dan efisiensi sumber daya, kolaborasi lintas profesi juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Syafiin Napu menyoroti beberapa kendala utama, seperti kurangnya koordinasi, perbedaan persepsi akibat latar belakang keilmuan (ego sektoral), keterbatasan sumber daya, hingga miskomunikasi.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis, di antaranya:
- Penguatan Komunikasi Tim: Membangun koordinasi dan transparansi agar pesan tersampaikan secara utuh.
- Pertemuan Koordinasi Rutin: Sinkronisasi strategi dan evaluasi pelaksanaan program.
- Pembagian Tugas yang Jelas: Mencegah tumpang tindih pekerjaan agar tim bekerja lebih sinergis.
- Pelatihan Kolaborasi Interprofesional: Menyamakan persepsi berbagai profesi sejak dini.
Sebagai penutup, Kabid Kesmas Dinkes Prov. Gorontalo tersebut memberikan contoh sukses implementasi kolaborasi interprofesional pada program-program kesehatan prioritas nasional, seperti upaya Percepatan Penurunan Stunting (Fokus 1000 Hari Pertama Kehidupan), pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Kegiatan kuliah tamu ini diharapkan mampu membekali mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo dengan mindset kolaboratif yang kuat. Sehingga, saat lulus nanti, mereka siap menjadi Ahli Gizi yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga handal dalam bekerja sama di dalam sebuah tim kesehatan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Gorontalo dan Indonesia.
